Tidak ada satu pun ciptaan Allah di alam semesta ini yang sia-sia. Begitu pula tidak ada satu pun syariat Islam yang sia-sia, semuanya mempunyai hikmah, walau mungkin keilmuan manusia belum menjangkaunya. Diantara yang disyariatkan Islam adalah salam, bagi seorang muslim kala bertemu saudaranya. Bahkan salam ini menjadi sarana tumbuhnya benih cinta antar sesama muslim. Rasulullah saw. bersabda, “Iman kalian tak kan sempurna, sebelum saling mencintai. Maukah kalian aku beri tahu amalan yang bisa membuat kalian saling mencintai, yakni sebarkanlah salam antara kalian” (HR. Muslim)

Ucapan salam dalam Islam yang sudah lazim memiliki arti, “Keselamatan bagimu serta rahmat dan berkah Allah”, ini bermakna filosofis; Pertama, Sapaan. Ibarat hari, tak dimulai dengan teriknya matahari; namun sejuknya pagi. Sebuah malam pun tak diawali dengan dinginnya kelam; tetapi hangatnya senja. Semua dibuka dengan sapaan. Dan, sapaan terbaik adalah salam. Salam akan membuka sekat egoisme yang menghambat komunikasi. Salam meluluhkan kebekuan hati dengan mendoakan keselamatan untuk rekan kita sekaligus meyakinkan bahwa kita bukanlah ancaman bagi dia, bahkan kita berharap kebaikan untuknya.

Kedua, Berjamaah. Kalimat salam berbentuk jama’, ini berarti bahwa salam mengajarkan kita untuk berjamaah saling bahu membahu. Esensi jamaah adalah kepedulian dengan adanya empati seperti sabda Rasul, “Sungguh ummat ini ibarat satu tubuh. Jika satu anggota tubuh merasakan sakit dan demam, maka keseluruhan tubuh merasakannya”. (HR. Bukhari) Salam menanamkan kepedulian antar sesama, mengajarkan bahwa mereka adalah bagian dari kita, dan kita bagian dari mereka.

Ketiga, landasan vertikal. Secara maknawi salam mengajarkan kita untuk menjadikan Allah sebagai tujuan (Allah oriented) di setiap interaksi. Rasul saw. mengingatkan bahwa segala sesuatu yang tidak tertuju pada Allah akan sia-sia. Salam mengingatkan kita bahwa setiap interaksi jangan sampai keluar dari koredor ibadah, agar segala apa yang kita lakukan bernilai amal sholeh di mata Allah. Hal ini akan membuat kita berhati-hati karena turut menyertakan kehadiran Allah dalam tiap interaksi kita.

Keempat, Misi. Setiap komunitas yang kuat mempunyai misi bersama yang sering diulang-ulang. Hal ini sering digunakan untuk membangun kekuatan psikologis sebuah militer. British rules the waves adalah contoh penetapan misi yang digunakan angkatan laut Inggris, yang membuat mereka menjadi negara koloni besar. Dan salam mengingatkan kita bahwa misi jamaah yang harus diusung ada tiga; menyebarkan keselamatan, rahmat Allah, dan berkah-Nya di muka bumi.

Kelima, Komitmen. Secara implisit salam merupakan salah satu bukti komitmen kita pada nilai-nilai Islam, komitmen kita dalam berjamaah. Dengan komitmen kita akan memiliki pengendalian diri yang lebih baik. Komitmen merupakan sarana sarana preventif yang efektif untuk mengurangi gejala depresi dan perilaku anti sosial.